Home > Blogosphere, World Of My Journey > Tunggangan pertama yang bersejarah, Kisah Gas ,Lohan dan Antena Yagi

Tunggangan pertama yang bersejarah, Kisah Gas ,Lohan dan Antena Yagi


Pagi ini sebelum memulai aktifitas , mencoba bernostalgia dahulu mengenang masa lalu, terlintas untuk menulis berkenaan dengan alat transportasi yang pertama kali saya gunakan ketika kuliah S1 dulu. Honda GL Max besutan tahun 1995 seperti tampak pada gambar di samping kiri, adalah kendaraan bermotor pertama yang saya miliki,  motor ini dibelikan oleh orang tua saya tepat di awal semester 3,  kala itu sebetulnya saya tidak membutuhkan motor karena sejak semester 1 saya lebih memilih untuk berjalan kaki dari rumah tinggal (rumah paman di Perum Polri Hajimena)  menuju ke kampus Unila, biasanya setiap pagi saya berjalan kaki menuju kampus dengan rute, BlokC–BlokB–BlokD–BLOKE–PuspaSari–JalanRaya Bypass–Damri–Perguruan–Alkautsar–Terakhir masuk lewat kampus belakang Unila, jarak tempuh perjalanan tidak terlalu jauh, kira-kira berjarak 4 KM, entah berapa banyak sepatu kets yang rusak karena melewati jalan aspal berkerikil tajam,  rute yang sama pun saya lalui menuju ke tempat kediaman, biasanya saya memilih pulang dekat-dekat magrib guna menghindari cuaca  terik. Berjalan seiring waktu masuk semester 3 dimana jadwal kuliah dan praktikum lagi padat-padatnya, juga aktif di wadah Himpunan, akhirnya orang tua tersayang memutuskan membeli kendaraan roda dua demi mendukung kelancaran operasional  aktifitas perkuliahan, mendengar kabar ini saya sangat gembira sekali, hingga susah tidur sembari membayangkan sangat terbantunya akan kehadiran kendaraan ini.

Kemudian dengan semangatnya sayapun mengumpulkan informasi terkait kendaraan bekas yang dijual baik di media koran, info teman, tetangga. Dengan pertimbangan budget serta hasil diskusi dengan kedua orang tua akhirnya saya memutuskan untuk membeli motor milik saudara tetangga saya yakni Honda GL Max tahun 1995,  saya pilih motor second ini karena mesin masih dalam kondisi prima, penampakan juga ok, motor kopling, tanpa fikir panjang saya pun membayar motor ini dengan harga 6,5 juta, transaksi dilakukan pada malam hari melibatkan paman sebagai saksi, malam itu pula merupakan malam pertama paling bersejarah dalam hidup saya akhirnya dapat menunggangi motor sendiri, saya pun berjanji dalam hati akan menjaga dan merawat amanah ini dengan sebaik-baiknya.   Singkat cerita motor inilah yang menemani setiap langkah dan gerak semenjak semester 3 hingga tamat kuliah. Alhamdulillah selama dipakai jarang rewel karena memang motor ini saya rawat dengan baik (Oli rutin diganti, Cuci rata-rata seminggu sekali, sesekali pasang asesoris), hmm kalo saya ingat ingat memang pernah beberapa kali mogok itu juga karena keabisan bensin karena uang di dompet lagi kosong😀 .

Tanpa terasa sudah tiba di semester 4,  libur semester genap tahun 2002 pun tiba, nah libur semester genap kala itu cukup lama kira-kira sekitar 3 bulan dari Agustus hingga ke Otober, di tengah kawan-kawan lain sibuk berfikir untuk pulang kampung atau bertamasya saya malah berfikir lain, bagaimana caranya dengan tempo waktu 3 bulan tersebut agar saya dapat memiliki komputer sendiri agar membantu aktifitas perkuliahan mengingat biasanya untuk mengerjakan tugas dan belajar saya sering minjam komputer teman atau nongrong di rental komputer.  Koran pun menjadi alternatif utama untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan info-info lowongan kerja partime diseputaran Bandar Lampung, matapun selanjutnya tertuju pada kolom koran informasi lowongan perusahaan GAS, dengan informasi yang tidak begitu jelas mereka mencantumkan lowongan kerja parttime di perusahaan gas (PT. Budaya Agung Lestari Indonesia kalo tidak salah namanya bergerak di konsultan Gas),  Engkol motor kesayangan lalu bergegas saya pun membawa berkas lamaran beserta biodata menuju Kaliawi (Alamat Kantor Tsb) siapa tau ada jodoh mendapatkan penghasilan tambahan  untuk membeli komputer.

Setiba disana setelah wawancara singkat mereka memutuskan untuk menerima saya sebagai karyawan baru tanpa memberikan gambaran pekerjaan yang jelas, sempat bingung tapi sudahlah yang penting sudah diterima dan saya diminta untuk datang ke kantor tepat waktu pukul 07.00 teng. Malam harinya saya pun tidak sabar sudah membayangkan sudah mulai masuk kerja untuk kali pertama, tepat pukul 06.30 sudah bertolak dari kediaman menuju ke kantor dan tiba tepat waktu pukul 07.00 . Motor pun saya parkir di kantor, lalu ada 2 orang mentor yang menghampiri saya dan mengkalim bahwa saya adalah salah satu dari member mereka dan siap untuk memulai bekerja, setelah briefing mentor mentor utama selesai (karyawan baru nunggu diluar) akhirnya saya diajak oleh kedua mentor saya tadi untuk mulai bekerja, hmmm saya bingung kok diajak naek angkot menuju ke arah WayHalim.  Itss ok lah saya jambanin sembari menahan rasa penasaran gimana sih bentuk kerjanya, tak lama waktu berselang kami pun tiba di daerah WayHalim (Perumahan Padat di BDL) kami bertiga mulai berjalan menyusuri area Wayhalim, saya pun memberanikan diri untuk bertanya kok “kita kerja jalan masuk ke Perumahan yah ??”, mentor menjawab “Tenang saja kamu Ikuti bagaimana kami bekerja” , ok saya pun lalu tidak banyak komentar lagi sembari mengikuti setiap gerak kerik mentor, tibalah kami di sebuah rumah yang cukup besar, dengan ligatnya salah satu mentor (lupa namanya) memencet bel berulang kali kemudian tuan ruman (ibu-ibu) keluar dari rumah, dengan gaya yang meyakinkan mentor membawa sebuah berkas bertulis Partner Pertamina dan menginformasikan kepada Ibu tersebut bahwa perlu diadakan perawatan rutin terhadap Kompor Gas dan Perangkat pendukung lainnya atas alasan keamanan,  mungkin karena berfikir kami adalah partner pertamina (ditunjukkan dengan surat2 tadi) lantas ibu tersebut mengizinkan kami untuk memeriksa kondisi kompor gas berikut selang dan tabung gas, kembali lagi dengan gaya meyakinkan mentor menjelaskan bahwa selang gas si Ibu tadi tidak standar dan mengancam jiwa apabila masih tetap digunakan, khawatir apabila terjadi apa-apa Ibu tadi memutuskan untuk mengganti selang gas dan mentor dengan sigap mengeluarkan selang baru dari tasnya, setelah proses instalasi selesai kami pun meninggalkan rumah tersebut dan meninggalkan semacam kartu kontrol pengecekan secara rutin.

Nah dari sini barulah saya tersadar bahwasanya perkerjaan yang saya lakukan adalah menjadi sales penjualan barang-barang berkaitan dengan kompor gas,  sempet mesem-mesem sendiri waduh kok Calon Sarjana kerjaan nya begini yahh…. hehehehe..😀 , tapi never mind walau bagaimanapun proses ini harus tetap saya lewati.

Matahari mulai berada di sepenggalah artinya bahwa hari sudah siang hampir jam 12, tak  lama suara azan jum’at berkumandang menandakan waktu sholat Jum’at sudah masuk, kami  bertiga memutuskan untuk mencari masjid terdekat untuk sholat, kebetulan 1 mentor adalah ibu-ibu, jadi hanya berdua saja yang sholat di mesjid.  Sehabis Jum’at kamipun beristirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh mengitari perumahan way halim. Mentor pun mengajak untuk mampir di tempat yang menjual gorengan untuk makan siang, 1 buah pisang goreng dan 1 buah bakwan saya habiskan dalam waktu singkat karena memang siang itu sangat terik dan perut dalam kondisi lapar. Alhamdulillah gorengan menjadi makan siang ternikmat kala itu.  Kami pun melanjutkan petualangan hari ini bergegas mengunjungi rumah-rumah lainnya, hingga sore hari  total total kalau saya tidak salah ingat ada sekitar 5 Unit perangkat gas terjual di daerah ini, akhirnya karena sudah sore kamipun memutuskan untuk kembali ke kantor, setiba di kantor seperti biasa para mentor briefing di ruang tertutup (saya tetap diluar) sepertinya melaporkan hasil jualan untuk hari ini.  Setelah briefing selesai, mentor saya tadi keluar dan menginformasikan kepada saya agar datang tepat waktu kembali pukul 07.00 keesokan harinya, saya hanya mengiyakan  kemudian ambil motor dan pulang kerumah

Setiba dirumah saya hanya termenung, rupanya gambaran bekerja duduk di kantor mengerjakan proses administrasi lalu setor laporan ke bos  berbanding 180 derajat dan harus menjadi sales perangkat gas berkeliling menjajakan produk kompor gas ke rumah rumah,  senyum-senyum sendiri dibuatnya apabila ingat akan kejadian ini. Finally saya memutuskan untuk tidak datang besok pagi ke Kantor Budaya Agung Lestari ini.

Tanpa berputus asa saya lantas tetap mencari peluang lainnya,  info saya kumpulkan dari teman, tetangga, saudara mengenai peluang bisnis partime,   ada ide dari teman untuk jualan hasil alam seperti pisang, jengkol, dan sebangsanya, namun saya kurang begitu tertarik, hingga akhirnya saya bertemu dengan tetangga bernama Mansyur dengan ide Uniknya adalah jualan pakan ikan Lohan, hmmmmm saya pun berfikir memang pada tahun 2002 merupakan zaman keemasan ikan lohan, dimana banyak ditemui di setiap pinggir jalan banyak ditemui pedagang lohan, pedagang pakan (anak ikan mas & lele), pedangan akuarium, dan pernak pernik lain berkaitan dengan Lohan.

Wowww naluri saya pun seketika bergairah membayangkan betapa prospeknya bisnis ini, akhirnya dengan sisa tabungan yang ada saya memutuskan untuk joint bersama Mansyur tadi, kami mulai melist daftar barang kebutuhan untuk memutar roda usaha pakan lohan, akhirnya terdata kebutuhan sebagai berikut;

  1. Terpal untuk kolam penampungan pakan ikan sementara.
  2. Tabung Oksigen Besar untuk Packing pakan ikan.
  3. Mesin pompa air kecil untuk memutar kolam.
  4. Plastik kantong wadah ikan kecil (pakan ikan lohan).
  5. Selang plastik kecil.

OK setelah dikalkulasi semua muncullah biaya 500 ribuan kalo tidak salah, dan kami urun berdua masing masing sumbangan 250 ribu, dengan menunggangi motor kesayangan mencari barang barang tadi dan kami kumpulkan di rumah masyur.  Peralatan tempur sudah siap sekarang tinggal bagaimana mencari supply pakan lohan berupa anakan ikan mas atau anakan ikan lele, sebelumnya memang kami sudah merencanakan untuk mengambil pakan lohan tersebut di daerah Pagelarang Pringsewu (kira-kira 60 KM dari rumah) , yang juga merupakan tempat kelahiran kedua orang tua, daerah Pegelaran ini dulunya terkenal sebagai sentra penghasil ikan air mas air tawar di Lampung, beberapa saudara saya pun memiliki petak tambak penghasil ikan mas.

Pagi menjelang siang saya berdua dengan Mansyur untuk kali pertama berangkat ke Pagelaran lagi lagi dengan motor kesayangan tadi dengan mempersiapkan sebelumnya karung untuk wadah ikan serta plastik transparan besar wadah penampungan ikan.  Dengan penuh Optimisme saya memacu kendaraan berboncengan melewati rute Pramuka-Kemiling-Tataan-GadingRejo-Pringsewu-Pagelaran, dengan jarak tempuh sejauh  60 KM  membutuhkan  waktu 1 jam,  tanpa perduli panas terik matahari saya menyemangati diri dengan membayangkan kehadiran 1 Unit Komputer  di rumah. Setiba di pagelaran saya selanjutnya menemui paman yang memiliki kolam ikan mas cukup luas dan langsung negosiasi harga beli anakan emas. kesepakatan antara paman dan ponakan pun telah disepakati dengan harga anakan ikan mas per gelasnya adalah Rp. 10.000. Awalnya kami membeli anakan emas ini hanya 10 Gelas saja, dibundle menjadi 2 gelembungan plastik besar berisi masing masing 5 gelas,  biasanya anak ikan mas tidak diberi pakan lagi apabila sudah mau dimasukkan ke dalam gelembungan plastik menghindari ikan mabuk pada saat diperjalanan, kemudian juga anakan ikan mas biasanya kami bawa sore hari untuk menghindari teriknya matahari siang.

Setelah proses packing selesai, 2 gelondongan anak ikan mas tadi saya naikkan ke atas motor dan ditaruh kedalam sampit,  dan rekan saya mansyur menduduki sampit tersebut, Dalam 3 bulan setiap hari ritual ini kami jalani dengan senang hati, meskipun terkadang harus menerobos lebatnya hujan karena khawatir akan keselamatan ikan-ikan mas yang kami bawa, padahal yang seperti itu juga kalau difikir-fikir pastinya juga membahayakan kami.  Setibanya dirumah,  (biasanya lepas magrib) anakan ikan mas tadi kami bongkar dan dimasukkan kedalam  kolam penampungan sementara untuk menetralisir Psikologi ikan agar tidak mabuk. Barulah keesokan harinya selepas sholat subuh saya dan mansyur mensortir anak ikan lalu memasukkannya kedalam paket plastik anak ikan mas berjumlah 10-an atau 20-an, satu demi satu  dihitung dengan cermat saya masukkan pakan ikan dan membungkusnya dalam wadah plastik kecil lalu diberikan asupan oksigen dari tabung O2 agar ikan mas bisa tahan.

Setelah proses packing selesai kami biasanya menjajakan pakan ikan ini door to door ke kios kios kecil di pinggir jalan dengan harga lebih murah dibanding pemasok lainnya (trik promosi dagang😀 ) , dan dengan cepat pula dagangan kami laris manis terjual tak bersisa, rata-rata keuntungan bersih yang bisa kami dapat adalah 100 ribu rupiah untuk satu kali perputaran penjualan. Jumlah yang cukup besar ditahun 2002 bagi seorang mahasiswa, hasilnya pun kami tabung dan tidak langsung dibagi. 1 bulan berjalan usaha semakin lancar, dari awalnya kami membeli 10 gelas, lama kelamaan bisa membeli 20 gelas, dan omset pun semakin meningkat. Alhamdulilah rupanya usaha ini diberi kelancaran oleh Alloh.

Menginjak bulan kedua saya pun  mengamati kondisi sekitar pagelaran yang rupa-rupanya HP tidak dapat difungsikan disini, karena pagelaran merupakan titik BlankSpot tidak terjamah oleh sinyal GSM apapun pada saat itu. Nah dari sini naluri Engineer saya mulai tergugah bagaimana caranya untuk mengatasi problem ini sekaligus menangkap peluang usaha-nya. Dari hasil searching di internet dan berdiskusi dengan tetangga lainnya  akhirnya saya menemukan cara agar sinyal GSM  dapat tertangkap di HP dan digunakan di area Pagelaran,  yakni dengan membuat antena YAGI dari antena Yagi tersebut dihubungkan dengan kabel Koaxial dan dibuatkan dudukan khusus dari kayu dengan bentuk seukuran HP. ilustrasinya sbb

Setelah melewati masa uji pit and proper test😀 , akhirnya saya putuskan untuk merilis perangkat ini di area Pagelaran, disela-sela menunggu ikan mas siap di packing biasanya saya menunggangi motor dan menawarkan antena penguat sinyal HP Rakitan sendiri ini ke rumah-rumah bagus di area Pagelaran.  Alhamdulillah ada beberapa rumah yang berminat dan mau memasang alat ini demi kelancaran komunikasi dengan sanak keluarga mereka diluar pagelaran. OK saya pun menyanggupi dengan jaminan garansi antena semumur hidup😀 , (ikut gaya cina, seumur idup aja, kalo alatnya mati/rusak udah gak jaminan lagi hahaha) . Awalnya saya mematok harga 500 Ribu rupiah untuk instalasi pasang tinggal terima kriiiinnng, Tuan rumah pun menyanggupi dan saya berlekas membeli peralatan pendukung lainnya seperti tiang besi untuk dudukan antena, sling kawat pengikat antena, klem, paku, dll. dengan ligat membutuhkan waktu 2-3 jam saja akhirnya proyek perdana pemasangan Antena berjalan sukses,  dengan tinggi tiang 16 meter, antena saya arahkan ke BTS terdekat di daerah Pringsewu, selanjutnya saya meminta agar tuan rumah ijicoba dan menaruh HP pada dudukan yg sudah disiapkan, alhamdulillah ada sinyal kadang satu bar dan 2 bar,  ini sudah cukup untuk melakukan panggilan suara tanpa putus-putus,   setelah uji coba berhasil saya pun pulang dengan membawa uang sebesar 500 Ribu rupiah, wah Alhamdulillah  lagi lagi ini hasil kakap terbesar pertama sepanjang hidup saya mendapatkan uang sebanyak 500 Ribu, padahal modal buat alat itu gak sampe 100 ribu hihihihi😀 .

Tanpa terasa sudah mau masuk bulan ketiga, usaha pakan lohan berjalan berdampingan dengan usaha penjualan antena penguat sinyal GSM, tercatat sekitar 5 orang sudah yg memasang Antena penguat sinyal ini, harga pun sudah saya naikkan tidak lagi harga promo tapi saya beranikan menaikkan harga menjadi 750.000 sekali instalasi kriiiing.  hebatnya mereka masih sanggup membayar sodara-sodara. cocok kebetulan kalau gitu.

Tibalah dipenghujung liburan semester genap, saya memutuskan untuk berhenti dan tutup buku agar keuntungan hasil dagang pakan lohan dapat dihitung dan dibagi berdua, Alhamdulillah hasil dari keuntungan berjualan lohan dan penjualan antena HP, saya berhasil membeli 1 unit Personal Computer (PC) AMD Duron kalau tidak salah, lengkap dengan monitor dan perangkat pendukung lainnya, lalu ada sisa uang juga yang saya tabung untuk keperluan kuliah.

Hmmm baru dua kisah yang saya tulis berkaitan dengan Motor legendaris ini, rasanya masih kurang saja deskripsi lukisan kenangan dalam bentuk kata-kata hingga kata ke 2300 (sudah memakan waktu 2 jam utk menulis).

OK lah Saya sudahi dulu cerita kali ini, pastinya motor  ini adalah salah satu bagian sejarah penting sebagai saksi bisu menemani perjuangan saya menjalani hidup dan kehidupan.

  1. November 16, 2011 at 5:36 am

    Mantabs..Sesekali pernah jojal nih motor..:)

  2. November 16, 2011 at 8:00 am

    #sisivisiku. thanks sob, siapapun dirimu,keberadaan motor ini sangat berarti.

  3. November 16, 2011 at 11:23 am

    Ini GL MAX yg dipake di puskom Gih🙂

  4. November 17, 2011 at 1:31 am

    #p komar. kalau dikaitkan dengan puskom, motor ini bisa dikatakan sebagai penunggu pak hehe.

  5. September 16, 2013 at 9:04 am

    terima kasih akhirnya saya approve

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: