Home > Blogosphere > Reposting – ETIKA MENULIS DI FACEBOOK

Reposting – ETIKA MENULIS DI FACEBOOK


Sekedar share dan mengutip Note dari Bapak Riri Satria dari laman Facebook beliau tentang Etika menulis posting/komentar/wall/note di Facebook, mudah-mudahan menjadi inspirasi.

=============================================================

Facebook adalah suatu situs jejaring sosial yang menghubungkan berbagai macam manusia dengan latar belakang yang beragam, baik latar belakang negara, agama, ras, budaya dan adat-istiadat, pendidikan, paradigma berpikir, pekerjaan dan profesi, dan sebagainya. Kondisi terakhir menunjukkan bahwa pengguna (user) Facebook di dunia sudah melebihi jumlah penduduk negara kita ini, Indonesia.

Seorang pengguna Facebook juga memiliki jejaring sosial tersendiri, yang jumlahnya bisa ribuan (saat ini kapasitas maksimum pertemanan di Facebook dibatasi sampai 5.000). Katakanlah seseorang memiliki teman langsung atau first-tier di Facebook sebanyak 2.000 orang, maka informasi yang ada di wall, profil, notes, foto, dan sebagainya, berpotensi untuk diakses langsung oleh 2.000 orang (katakanlah user yang aktif hanya 50%-nya, maka potensi itu tetap besar, yaitu 1.000 orang). Lalu 1.000 orang ini juga memiliki jejaring (yang berfungsi sebagai second-tier) yang bisa mengakses info milik si pengguna tadi.

Seperti halnya teknologi lainnya, Facebook juga bisa memiliki 2 (dua) dampak, yaitu positif dan negaif. Dampak positifnya adalah kita bisa menjalin komunikasi dengan semua jejaring pertemanan dengan cepat, istilahnya menjaga silaturrahmi. Tetapi di sisi lain, Facebook juga bisa menjadi perusak reputasi seseorang atau penyebar fitnah.

Saya percaya bahwa dunia internet adalah dunia bebas, maka tidak diperlukan sensor-menyensor segala. “Sensor” akan terjadi secara alami, dan secara perlahan, “sampah-sampah” di internet akan tergeser dengan sendirinya. Fakta sudah menunjukkan “kejayaan” pornografi sudah tergeser di internet dengan media sosial seperti Facebook (yang sampai saat ini masih komit tidak mentolerir pornografi). Dengan demikian, “sensor” sesungguhnya ada pada diri kita masing-masing. “Be wise while browsing, and think before posting“, adalah suatu kalimat yang tepat menggambarkan dunia internet.

Sudah banyak yang mencoba menyusun etiket menulis di Facebook (kita bisa search melalui Google). Namun pada tulisan ini, saya mencoba untuk menuliskan pemikiran saya mengenai etiket menulis di Facebook, dikombinasikan dengan berbagai pemikiran lainnya yang sejenis yang saya peroleh di internet.

 01. Karena wall Facebook itu ibarat rumah dan pekarangan kita sendiri, maka silakan untuk menuliskan apa saja di sana. Silakan berkeluh-kesah, memaki-maki sesuatu, menulis yang tidak penting, dan sebagainya, toh itu kapling kita sendiri kok. Tetapi teori ilmu komunikasi mengatakan bahwa apa yang kita tulis sesungguhnya mencerminkan siapa diri kita.

02. Nah, persoalan baru akan muncul apabila kita menulis di wall sendiri, tetapi men-tag orang lain, karena apa yang kita tulis tersebut akan muncul di wall orang (yang sudah jadi friend kita) tersebut. Pertimbangkanlah, apakah dia akan suka dengan apa yang kita tulis? Apakah tata bahasa atau kalimat yang kita tulis itu berkenan kepada orang itu? Apakah tulisan kita ini tidak akan memberikan dampak negatif kepada orang tersebut? Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki sudut pandang, paradigma, dan bahkan cara berpikir sendiri.

 03. Point nomor 02 di atas juga berlaku apabila kita ingin menulis di wall orang lain atau memberikan komen terhadap status, foto, dan sebagainya, di “pekarangan” orang lain di Facebook. Intinya tetap “think before posting“.

 04. Point nomor 02 atau 03 di atas juga berlaku jika kita ingin upload sebuah foto di Facebook dan men-tag seseorang di sana. Pertimbangkan dulu sebelum meng-upload dan men-tag seseorang, kita bisa jadi dampaknya sangat besar kepada orang lain itu. Keterbukaan tidak selalu berarti bisa mempermalukan orang lain di depan umum, atau membuat orang lain merasa marah dan gusar, hanya untuk keisengan atau hal-hal yang tidak penting. Kecuali untuk sebuah informasi yang perlu diketahui publik, misalnya foto pejabat publik yang melanggar lalu-lintas seenaknya, dalam rangka social surveilance.

 05. Sangat disarankan jika kita merasa ragu apakah suatu foto boleh di-upload atau tidak, karena mungkin akan memberi dampak negatif kepada seseorang, maka kita bertanya dulu kepada orang tersebut, apakah dia keberatan jika sebuah foto di-upload?

 06. Jika kita ingin mengomentari suatu tulisan di wall orang lain, maka berilah komentar di bagian komentar, dan janganlah memberi komentar dengan cara langsung menulis di wall. Komentar yang diberikan pun sejatinya berkaitan dengan topik yang dibahas, kecuali secara sengaja kita kasih kode OOT (out of topic).

 07. Bolehkah menghapus sebuah tulisan atau komen yang dibuat orang lain di wall kita? Menurut saya sih sebaiknya jangan dan dihindari, kecuali yang dia tulis itu betul-betul tidak berkenan buat kita dan membuat kita merasa tidak nyaman. Toh, itu kan pekarangan kita, ya silakan dihapus saja. Hanya saja, semakin sering kita menghapus tulisan orang lain, semakin tidak baik untuk membangun silaturrahmi.

 08. Akhirnya memang internet adalah dunia bebas, tidak ada aturan, yang ada hanyalah “sensor” pada diri sendiri, mana yang pantas dan mana yang tidak. Di sinilah dibutuhkan kecerdasan sosial seseorang …

Mudah-mudahan bermanfaat, semua komentar sangat welcome dan diharapkan …

Salam

Riri Satria

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: