Home > Blogosphere > Tugas Me-review kerjaan temen

Tugas Me-review kerjaan temen


Era Mobile Gadget Dalam Kontribusinya Menangkap dan Membentuk Budaya dalam Transfer Knowledge (Cut Yunny Artha Meyrina Pane)

Abstraksi :

Adalah tantang bagi para akademisi dan praktisi untuk menemukan metode yang tepat dalam menangkap tacit knowledge dan cara sharing knowledge, karena salah satu dasar dari pendekatan knowledge management bukanlah teknologi tapi manusia (people) dan faktor yang mempengaruhinya seperti budaya. Di sisi manusia dipengaruhi oleh sifat dan karakteristiknya serta moral yang dipahami berbeda oleh setiap masing-masing individu sedangkan pada budaya selain norma dan nilai, pergeseran sosial budaya di zaman sekarang berubah dengan cepat, terutama dalam menggeser  makna dan sudut pandang tertentu yang ada di masyarakat sebelumnya, sehingga menciptakan norma baru yang bisa saja mempengaruhi cara capture dan sharing knowledge, seperti era teknologi yang semakin menjadi, dimana teknologi pada akhirnya justru mengarahkan budaya masyarakat zaman sekarang, dengan gaya hidup dan cara berkomunikasi yang telah berubah, budaya baru telah tercipta dengan era teknologi berupa mobile gadget seperti smart phone, tablet pc maupun ipod. Karenanya hal ini diharapkan dapat menjadi suatu acuan, yaitu pendekatan melalui teknologi untuk menangkap, membagi hingga membentuk knowledge baru kedalam suatu knowledge managementterutama manfaatnya bagi organisasi.

Key words : mobile gadget, manusia, budaya, metode, organisasi, knowledge management.

Introduction

Istilah Manajemen Pengetahuan atau Knowledge Management (KM) lahir pada pertengahan 1980-an yang di picu dengan kebutuhan untuk memperoleh pengetahuan dari banjirnya informasi, pada tahun 1990-an KM di artikan sebagai teknologi komputer yang berupa internet, grup pendukung sistem, mesin pencari, portal dan data pada warehouse serta penerapan analisis statistik dan teknik AI [6].

Pada penulisan ini kita akan membicarakan bagaimana transfer knowledge pada KM tapi tidak akan menjelaskan perbedaan dari kata transfer dan kata membagi dalam kata sharing knowledge, pada penulisan ini dianggap sama, intinya adalah bagaimana menyebar dan menindak lanjuti sebuah proses pengetahuan dalam sebuah bentuk dan melalui teknologi agar terus ada pada knowledge life cycle.

1. Manajemen Pengetahuan

1.1 Teori

Sebelum mengetahui apa itu managemen pengetahuan ada baiknya kita mulai dari definisi pengetahuan, dalam berbagai literarature ilmiah pengetahuan (knowledge) digambarkan sebagai, Knowledge is … a fluid of mix of framed experience, values, contextual information, and expert insight that provides a framework for evaluating and  incorporating new experience and information [3], atau knowledge is “the fact or condition of knowing something with familiarity gained through experience or association; acquaintance with or understanding of a science, art, or technique; the fact or condition of being aware of something”[4].

Dapat disimpulkan pengetahuan berasal dan diterapkan dalam benak yang mengetahui melalui pengalaman. Di organisasi (dalam arti luas) pengetahuan tersimpan dalam bentuk dokumen, repositori, kegiatan rutin, proses, praktik dan norma organisasi. Pengetahuan berbeda dari data maupun informasi. Bila digambarkan dalam rangkaian  informasi maka hasilnya nampak sebagai berikut:

Figure 1 : Tangga pengetahuan (cf. North 1999, p. 41)

Informasi menjadi pengetahuan bila diteruskan ke orang lain serta menambah perbendaharannya. Knowledge is what I know sedangkan Information is what we  know, contohnya, shared  knwoledge[5]. Pengetahuan dapat dikelompokkan secara luas ke pengetahuan individual dan pengetahuan organisasi.  Pengetahuan individu adalah pengetahuan yang berada dalam benak individu yang bersangkutan. Pengetahuan organisasi adalah pengetahuan yang terbentuk melalui interaksi antara teknologi, teknik dan manusia. Nonaka[7] membagi pengetahuan organisasi menjadi 2 yaitu pengetahuan eksplisit dan implisit (tacit). Singkatnya, pengetahuan eksplisit terdokumentasi, bersifat publik, terstruktur, isinya tetap, dieksternalkan, digunakan bersama-sama  dan bersifat sadar sedangkan pengetahuan implisit berada dalam benak, budaya dan pengalaman dalam organisasi, bersifat personal, tidak terdokumentasikan, peka  konteks, secara dinamis diciptakan dan berasal dari intern serta berbasis pengalaman, seringkali berada di otak, perilaku dan persepsi  sseseorang.

Dengan demikian berdasarkan topik penulisan ini KM adalah sebagai sebuah proses kreasi, validasi, prsesentasi, distribusi dan penerapan dari pengetahuan [8] dan juga pendapat Rowley, Peran KM ialah memfasilitasi komunikasi antara anggota organisasi melalui berbagai alat seperti e-mail, intranet, groupware, kelompok intensif pengetahuan seperti perusahaan konsultasi, asuransi, dan perangkat lunak [9].

2.1 Konsep dan Framework KM

Salah satu penemuan terbesar dalam KM terletak pada observasi sederhana yaitu, pengetahuan itu tidak mengikuti, tidak tumbuh dan akhirnya menua dan menjadi mutlak hingga tidak berguna, seperti halnya uang jika kita meyimpannya dalam waktu lama tanpa di investasikan maka lambat laun akan kehilangan nilainya dan akhirnya tidak berguna. Pengetahuan akan semakin kaya dan bertambah nilainya jika dibagi / ditransfer dan bukan terbatas hanya pada penggunaan individu, karena disini memberi peluang terciptanya pengetahuan baru. Agar pengetahuan dapat di transfer antar individu, pengetahuan harus terlebih dahulu di ubah menjadi informasi (externalized) dan kemudian di konversi kembali menjadi pengetahuan (internalized), seperti gambar di bawah ini :

Figure 2 : Konversi pengetahuan dari Nonaka dan Takeuchi (1995).

Socializationadalah proses interaksi antara individu yang dihasilkan dalam membagi pengetahuan, proses ini membantu dalam membagi pengalaman pegawai, mental, dan keyakinan mereka juga sudut padang sehingga pengetahuan yang tersimpan dalam otak seseorang sampai pada komunitas / kelompok.

Externalization adalah proses menangkap informasi tentang pengetahuan. Seperti halnya ketika sedang berbicara kepada seseorang, menulis dokumen, menggambar suatu sosok, memberikan presentasi atau mengajar.

Combination adalah suatu tahapan kombinasi dan koneksi pengetahuan dengan penciptaan pengetahuan yang baru. Mengkombinasikan pengetahuan sebelumnya yang telah diterima dari orang lain dengan pengetahuan yang dimiliki atau pengalaman yang menciptakan pengetahuan yang baru.

Internalization adalah proses pemahaman informasi, menarunya pada konteks dengan pengetahuan yang dimiliki dan denganya mengubah informasi kedalam pengetahuan. Pada gambar diatas menunjukkan bagaimana pengetahuan di ubah dari tacit ke explicit, dan kembali ke tacit dalam berbagai tahapan dari berbagi pengetahuan.

Selain itu Davenport dan Prusak [3], mengemukakan 4 kategori proyek KM berupa :

  1. proyek yang berkaitan dengan  penciptaan repositori pengetahuan
  2. proyek yang berkaitan dengan menyempurnakan akses pengetahuan
  3. proyek yang berkaitan dengan mengubah lingkungan pengetahuan dan
  4. proyek yang berkaitan dengan pengetahuan menilai sebuah aset.

Dibawah  ini beberapa review dari knowledge management yang diambil dari beberapa pendapat :

Frameworks Descriptions

 Leonard-Barton,19951.       Shared and creative problem solving

2.       Importing and absorbing technological knowledge from the outside of firm

3.       Experimenting and prototyping

4.       Implementing and integrating new methodologies and tools.Arthur Anderson and APQC, 19961.  Share  2.  Create  3.  Identify  4.  Collect  5.  Adapt  6.  Organize  7.  ApplyWiig, 19931.  Creation 2.  Manifestation   3.  Use    4.  TransferChoo, 19961.       Sense making (includes “information interpretation”)

2.       Knowledge creation (includes “information transformation”)

3.       Decision making (includes “information processing”)Van der spek and Spijkervet, 1997In the Act process

1.  Develop  2.  Distribute  3.  Combine  4.  HoldNonaka, 19961.       Socialization (conversion from tacit knowledge to tacit knowledge)

2.       Internalization (conversion from explicit knowledge to tacit knowledge)

3.       Combination (conversion from explicit knowledge to explicit knowledge)

4.       Externalization (conversion from tacit knowledge to explicit knowledge)Alavi, 19971.       Acquisition (knowledge creation and content development)

2.       Indexing  3.  Filtering  4.  Linking  5.  Distributing  6.  Application.Szulanski, 19961.       Initiation (recognize knowledge need and satisfy that need)

2.       Implementation (knowledge transfer take place)

3.       Ramp-up (use the transferred knowledge)

4.       Integration (internalize the knowledge)

 Table 1: Beberapa review dari Knowledge Management Frameworks

2. Pengaruh Budaya dalam Proses KM

Salah satu dasar dari pengetahuan berasal dan penyebaranya ada pada manusia dan faktor yang paling mempengaruhinya adalah budaya, pengaruh budaya dalam membentuk konteks dalam interaksi sosial yang menegaskan bagaimana pengetahuan digunakan untuk situasi tertentu dan membentuk proses dari sebuah pengetahuan baru. Dari beberapa pendapat–pendapat dibawah ini dapat dilihat :

Biasanya, ada beberapa set alat seperti Lotus Notes, intranets, dll, yang anda butuhkan tapi teknologi hanya 20% nya, sisanya 80% adalah orang / manusia. Maka budaya harus diterapkan dengan tepat – Roger Chaddock, associate director, Computer Science Corporation [10].

Apa yang terjadi disini adalah 90% budaya berubah. Anda perlu ikut berubah sehingga terus dapat saling terhubung satu dengan yang lain, jika anda tidak melakukanya anda tidak akan sukses – Bob Buckman, CEO of Buckman Labs [11].

Saat kita menjalankan sistem pengetahuan, kita menemukan kalau kita tertinggal dalam hal budaya yang mendukung kolaborasi dalam bekerja, karena orang menganggap pengetahuan (keahlian), adalah suatu metode yang mengamankan pekerjaan mereka sehingga mereka menolak untuk berbagi. Budaya adalah masalah yang besar – Chief knowledge officer, global engineering firm [12].

Budaya adalah refleksi dari suatu nilai, norma-norma dan kebiasaan. Pada tingkatan yang lebih dalam budaya memiliki nilai yang telah tertanam. Nilai kadang sulit untuk terwujud dengan jelas dan lebih sulit untuk diubah, sedangkan dampak budaya dalam membentuk dan penggunaan pengetahuan yang telah terwujud dalam bentuk kebiasaan tidak dapat dianggap remeh, seperti yang terlihat pada bagan dibawah ini :

Figure 3 : Elemen budaya yang mempengaruhi suatu kebiasaan

Dan bagaimana teknologi telah membentuk sebuah kebiasaan dalam berkomunikasi antar manusia dengan berbagai tingkatan baik muda maupun tua, baik secara formal maupun tidak formal, ada norma dan niali baru yang mewajarkan berkomunikasi dan berbagi melalui media teknologi untuk dan dalam bentuk apapun yang tanpa disadari telah menciptakan budaya baru dan cara baru dalam menangkap dan berbagi pengetahuan.

Jika dulu banyak orang menolak berbagi pengetahuan karena pengetahuan adalah satu-satunya senjata bagi keahlian mereka di era ini justru orang sepertinya berlomba-berlomba berbagi informasi dan pengetahuan, mereka menggunakanya sebagai alat untuk unjuk diri dalam kemampuan, semakin banyak berbagi dalam pengetahuan yang mereka miliki dengan menemukan solusi dalam memecahkan suatu permasalahan makin dikenal atau dihargai dan dianggap ahli dalam forum atau blog tersebut.

3. Perkembangan Teknologi dan KM

 

Di era digital yang marak akan perkembangan mobile gadget yang semakin canggih dan bisa dibilang membludak, berdampak pada terciptanya budaya baru yang melahirkan generasi baru dengan istilah Gen-C yang selalu berarti berhubungan dengan huruf C, yaitu connected, curious, chameleon, constantly changing, content creators, co-creationyangmerupakan ciri dari generasi muda yang tak lepas dari pengaruh teknologi dengan rentang usia tersebar dari kelompok 14-25 tahun, 26-39 tahun, dan 40 tahun ke atas [1], yang menunjukkan 27% adalah konsumen video online, 27% pengguna media sosial atau blog, 33% memiliki tablet PC, dan 39% menggunakan smartphone[2], kita tidak akan membahas satu persatu dari istilah diatas, tapi dapat diambil satu kesimpulan bahwa diera digital sekarang segala hal bentuk komunikasi beralih fungsi melalui internet yang dimediasi oleh bermacam-macam mobile gadget dan dengan apa yang telah di paparkan pada sesi sebelumnya, maka perkembangan teknologi dalam era digital adalah kesempatan bagi KM dalam mentransfer dan membagi pengetahuan, teknologi telah membentuk suatu budaya berupa perubahan dalam cara berkomunikasi, berbagi dan bersosialisasi pada layaknya sebelum berkembangnya teknologi.

Apa yang ditawarkan teknologi melalui mobile gadget dalam mentrasfer dan berbagi pengetahuan, bisa kita lihat dari beberapa pendekatan aplikasi yang dapat digunakan melalui mobile gadget didibawah ini :

  1. Kebutuhan akan akses data perusahaan :

Expert Finder, adalah suatu alat yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menghubungi ahli yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi  yang mampu membantu  dalam proses memecahkan masalahan. Biasanya dibangun pada database dimana profil ahli termasuk deskripsi dari wilayah pengetahuannya. Beberapa klasifikasinya :

 

a)      Mobile Information Exchange, terdiri dari transfer data dan informasi contohnya dengan menggunakan email seperti halnya dalam mengakses sistem operasional yang digunakan dalam organisasi untuk misalnya menerima grafik penjualan atau data pemasaran.

b)      Mobile Business Intelligence, tertuju pada akses pemrosesan data perusahaan menggunakan perangkat mobile, melibatkan teknologi yang telah lama di perkenalkan, misal data mining and data warehousing.

 

c)      Mobile KM, menggambarkan proses manajemen yang berkelanjutan, dimana teknik komunikasi mobile dan keterhubungannya dengan perangkat mobile adalah sebuah media untuk berkreasi,validasi, presentasi, distribusi, atau aplikasi pengetahuan.

  1. Update dan berbagi informasi perusahaan :

Website atau blog dan media sosial, sebagai alat menyampaikan pesan selain email, dan update segala kegiatan perusahaan, seperti keputusan dan peraturan yang berubah pada perusahaan dengan mengunakan image atau sound recording dan mengaksesnya melalui tablet PC dan smart phone.

Banyak kesempatan dalam memungkinkan membagi informasi dan pengetahuan dalam membentuk KM melalui mobile gadget.

4. Kesimpulan

Dengan adanya media melalui mobile gadget , sebenarnya tidak ada informasi dan pengetahuan yang tidak dapat diakses dan dibagi, melalui era digital dalam mobile gadget akan memudahkan proses KM terutama dalam faktor budaya yang mempengaruhi dalam sosialisasi KM, dalam era ini diharapkan tidak perlu dengan susah payah membangun awareness pada setiap orang untuk dalam membentuk KM yang tentunya sangat berpengaruh dengan keberadaan dan keberlangsungan suatu pengetahuan dalam membentuk, membagi, hingga menghasilkan pengetahuan yang baru (knowledge life cycle) karena teknologi bukanlah hal yang baru lagi dan berbagi melalui media tersebut bukanlah hal yang sulit.

 

Referensi :

  1. Rhenald Kasali,Cracking Zone, 2012.
  2. http://m.portal.paseban.com/?mod=content&act=read&id=6766

Lembaga survey konsumen, Nielsen, dan peneliti media sosial, NM Incite.

  1. Davenport, T.H. and Prusak, L. Working Knowledge: How Organizations Manage What They Know, Boston,1998.
  2. Merriam-Webster, O., “The Language Center, Merriam-Webster’s Online Dictionary & Thesaurus”, http://www.m-w.com/,2001.
  3. Foskett, A. C. (1996). The subject approach to information.  5th ed. London: Library Association Publishing.
  4. Lawton, G., “Knowledge Management: Ready for Prime Time?,” IEEE Computer, Vol. 34, No. 2, 2001, pp. 12-14.
  5. Nonaka, I. (1991). The knowledge creating company. Harvard Business Review, 34 (6):96-114.
  6. Bhatt, G.D. Knowledge Management in organizations: examining the interaction between technologies, techniques and people. Journal of Knowledge Management,5 (1). 68-75.
  7. Rowley, Jennifer. (2003). Knowledge management- the new librarianship? From custodians of history to the future. Library Management, 14 (8/9):433-440.
  8. Moran, N. 1999. Financial Times, Special Section, Knowledge Management. Becoming a knowledge-based organization, April 28:1.
  9. Rifkin, G. Nothing but net. Fast company, June – July 1996, 127.
  10. Nahapiet, J. & Ghoshal, S. 1998. Social capital, Intellectual capital, and the organizational advantage.
  11. Leonard-Barton, D. (1995). The Wellsprings of Knowledge. Cambridge, MA: Harvard Business School Press.
  12. Arthur Andersen and APQC (1996), “The KM Assessment Tools: External Benchmarking Version”, Winter.
  13. Wiig, K. M. (1997). “Roles of knowledge-based systems in support of knowledge management”. In J. Liebowitz & L. C. Wilcox, Knowledge management and its integrative elements(pp. 69-87). New York: CRC Press.
  14. Chih-Ping, W., Jen-Hwa, H., and Hung-Huang, C.(2002). “Design and evaluation of a knowledge management system”, Software Journal, 19(3), 56-59.
  15. Van der Spek, R. and Spijkervet A. (1997), “Knowledge Management: Dealing Intelligently with Knowledge”, Knowledge Management And Its Integrative Elements, eds (Liebowitz, J. & Wilcox, L.).  New York: CRC Press.
  16. Nonaka, I., and Takeouchi, H. (1995), The knowledge-creating company. NY: Oxford University Press.
  17. Alavi, M. and Leidner, D.,  (1999), “Knowledge Management Systems: Issues, Challenges, and Benefits” Communication of AIS, Vol. 1, Article 14.

Cuma kasih sedikit masukan,

Secara keseluruhan dari sisi kaidah penulisan jurnal ilmiah sudah memenuhi prosedur baku dimulai dari latar belakang, dasar teori, pembahasan, serta kesimpulan, namun pada jurnal ini tidak dimuat metodologi terperinci mengenai penelitian sehingga terjadi ada missing link atas kesimpulan yang penulis hasilkan.

Studi literatur sebagai dasar teori sudah cukup lengkap, namun kritik saya terhadap tinjauan pustaka penulis masih belum berimbang, karena dari lampiran daftar pustaka lebih banyak membahas mengenai KM sedangkan dari judul penelitian sebetulnya lebih menekankan dari sisi Teknologi Mobile Gadget, sehingga akan lebih baik apabila dilengkapi lagi pembahasan terdahulu mengenai teknologi Mobile Gadget dalam kaitannya terhadap KM.

Kemudian pada point kesimpulan yang menyebutkan bahwa “dalam era ini diharapkan tidak perlu dengan susah payah membangun awareness pada setiap orang untuk dalam membentuk KM” pernyataan ini kontraproduktif terhadap kunci keberhasilan yang ditentukan 20 % hanya dari teknologi dan 80% sisanya adalah factor nonteknologi, sehingga saya berpendapat bahwa membangun awareness terhadap KM tergolong sulit dan perlu keseriusan serta usaha yang maksimal agar hasil implementasi KM dapat sesuai dengan yang diharapkan.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: